AKSI LITERASI MAWALE
Karya : Fredy Sreudeman Wowor*
Kalau seluruh informasi yang kita butuhkan dalam
meningkatkan kualitas pengetahuan dan memajukan diri untuk dapat hidop lebe bae di tanah ini dapat
diakses melalui internet, mengapa proses belajar di daerah ini mesti selalu
mengikuti tuntutan kebutuhan dari sentra kekuasaan yang mengharuskan kita di
sini sekedar mengetahui sesuatu semata-mata sebagaimana apa yang mereka ingin
kita ketahui ?
Bukankah
tujuan berpengetahuan adalah menjawab kebutuhan sebuah pribadi pada suatu kali
di ketika hidupnya?
Apa artinya kehadiran internet
andai hanya sekedar menjadi sarana untuk mengetik :
“Bete…….”
“Ah, tau dang deng ngana….baforo jo
deng mimpi jadi Messi !!!”
“Yayang jang lupa ne isi akang
pulsa kita BB, love U”
“Ngana bilang dia ade, kong tu dia
le ade, qta dang apa?????????”
“Sebel…masa dia nggak ngerti juga ?
apa gue mesti nembak duluan….”
“gue sih kagak ape-ape, lu tre no”
“wataaaaaaaawwwwwwwww”
Atau ini :
Sekedar tempat “copy” informasi
buat tugas mata kuliah kritik teks, penulisan kreatif, jurnalistik, telaah
puisi, telaah prosa, telaah drama, pokok dan tokoh puisi, pokok dan tokoh
prosa, pokok dan tokoh drama, serta teater for “Paste” jadi sepuluh lembar
“makalah” untuk nilai tugas – Paling kwa tu mner deng enci nda mo perhatikan !
– Tapi soalnya adalah :
Apa arti kebenaran menurut pendapat
kamu ?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin
pernah menjadi pertanyaan-pertanyaan yang terus menggelumiti ingatan atau malah
kini sedang menjadi pergumulan jiwa yang belum sempat mendapat jawaban.
Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja
aku kemukakan sebagai pengantar tulisan ini untuk mengatakan bahwa siapa pun
dari kita yang mengajukan pertanyaan dengan cara sedemikian terhadap situasi
dan kondisi kehidupan di saat ini sebenarnya sedang mengambil sikap posisional
seorang intelektual.
Karena arti seorang intelektual
nampak dalam pilihan sikap untuk mengupayakan pemecahan dari soal-soal
kehidupan. Proses pemecahan dari soal-soal kehidupan ini, tak bisa tidak haruslah diawali dengan menemukan cara untuk mengajukan
pertanyaan.
Penemuan pertanyaan dengan cara
yang sedemikian ini mesti dicari pemecahannya melalui pegangan keyakinan bahwa
upaya pemecahan dari soal-soal kehidupan ini menuju pada adanya pertumbuhan dan
peningkatan kualitas hidup manusia.
Patokan pengertian intelektual ini
dapat ditelusuri sumbernya pada akar kata bahasa latin,“Interlego” atau
“Intellego” artinya “Aku membaca di antaranya” atau “Aku memisah-uraikan”.
Dalam “Handwoerterbuch” dari Karl Ernes Georges diterangkan
lebih spesifik lagi unterscheidend innewerden, memisah-uraikan sambil
mengendapkan dalam batin. Artinya : Orang yang dalam dan intens memikirkan atau
menghayati sesuatu.
Y.B.Mangunwijaya yang menulis
pendapat ini dalam “Cendikiawan dan Pijar Kebenaran”, sebelumnya telah mengemukakan,
”Sebab banyaklah dimensi kehidupan
dan kenyataan terselubung sudah diketahui cendikiawan sebelum massa
mengetahuinya.”
Dia menegaskan bahwa istilah
cendikiawan yang digunakannya mengandung pengertian dasar yang sama dengan
intelektual dalam arti aslinya seperti terungkap dari asal usul katanya.
Bertolak dari landasan pengertian
ini, maka untuk tegasnya dapat dikatakan, bahwa siapa pun yang berupaya hidup dengan mendayagunakan potensi
berpikirnya demi melakukan tindakan yang meningkatkan kualitas kehidupan,
sehingga mampu menggerakkan setiap orang berpacu bersama menuju hidup yang lebe
hidop -- Seperti Satu Langkah Mampu
Lewati Sembilan Gunung – Laik disebut sebagai Intelektual.
Sebagai seorang intelektual,
seseorang harus berani mengemukakan pemikiran untuk menggugah inspirasi setiap orang
di sekelilingnya, agar mereka yang kehilangan titik tuju dapat keluar dari
kebuntuan pandang akan masa depannya.
Untuk menggugah inspirasi, seorang
intelektual harus menguasai rahsia bilangan : kekuatan perkataan dari daya ucap.
Dia mesti menemukan bahasanya.
Bahasa dalam pengertian ini
mencakup pemahaman sebagai media komunikasi dimana pendapat kita dapat
dimengerti oleh orang lain sebagaimana pendapat tersebut kita maksudkan atau pada
sisi lain pendapat orang lain tersebut dapat kita pahami sebagaimana pendapat itu
dia maksudkan. Hal ini dapat diringkas dalam dalil :
QITA DA BILANG TU DEPE MAKSUD, DEPE MAKSUD TU QITA DA BILANG
Baku Mangarti
kata Orang Manado adalah Hakikat Bahasa.
Kebutuhan
untuk mengerti dan dimengerti ini
menghadirkan pembuktian bahwa bahasa terus berubah melampaui setiap pembatasan
serta aturan kebahasaan yang datang kemudian.
Pokok pemikiran inilah yang
menjadikan bahasa hadir sama bagi setiap orang tapi berbeda untuk semua
komunitas.
Tanpa fungsi bahasa sebagai alat
komunikasi untuk tercapainya saling memahami, bahasa akan mengalami stagnasi
dan mengakibatkan pemikiran manusia jadi tumpul.
Proses penumpulan pemikiran manusia
mengakibatkan kemampuan kritis manusia yakni kemampuan untuk terus mengusahakan
kemajuan diri melalui penciptaan ruang kerja dan penemuan kebenaran yang hakiki
akan memudar.
Proses pudarnya kemampuan ini,
akhirnya menjadikan daya hidup manusia merosot bahkan musnah, karena dengan
hilangnya kemampuan ini, manusia kehilangan etos kerjanya manusia tidak lebih dari
sekedar bangkai berjalan – Zombi.
Dalam
sebuah kelas seorang guru mengajar setiap murid dengan tujuan setiap murid
dapat memahami penjelasannya dalam hubungan pengertiannya yang masing-masing.
Perbandingan ini berlaku juga pada
dua orang yang sedang melakukan percakapan dimana percakapan yang sedang
berlangsung tersebut bermakna sebagai percakapan dari dua pribadi untuk saling
memahami.
Kekhasan bahasa yang lahir dari
komunikasi antara dua pribadi manusia yang unik menjadikan bahasa juga bersifat khas
dalam kesepakatan fungsionalnya sebagai proses komunikatif.
Dalam
lingkup pemahaman seperti ini, bahasa daerah niscaya akan menempati “urutan
pertama” untuk tidak mengatakan “satu-satunya” sebagai medium komunikasi yang
paling efektif.
Bahasa
daerah membuat kita menyentuh landasan hakiki pengertian kata dari mana satu
hal menjelaskan maksudnya pada kita.
Hal ini tidak bisa dibandingi oleh
bahasa lain yang kita pelajari kemudian, setelah kita menguasai terlebih dahulu
bahasa yang kita kenal sebagai bahasa daerah tersebut.
Dalam dialog bersama Alex Ulaen di
antara tegukan kopi tubruk bikinan Om Manus di kantin Fakultas Sastra Unsrat,
awal abad 21, aku tiba dalam pemahaman bahwa pengalaman menggunakan bahasa
daerah – Bahasa Tana / Bahasa Manado – memberi pengertian yang mendasar untuk
menguasai bahasa asing ketika dia menceritakan persiapannya dulu kala belajar
ke prancis.
Tahu berbahasa daerah dalam hal ini
berbahasa tana atau berbahasa manado memberikan kemampuan untuk memperoleh
pengertian yang mendalam soal arti sebuah kata dari bahasa asing sampai pada akhirnya kata dari bahasa asing
tersebut dapat kita peroleh makna hakikinya dan kemudian menjadi milik dari
pemahaman kita yang pribadi.
Kekuatan bahasa daerah ada pada
aksentuasinya yang memberi kekhasan pada keberadaan satu pribadi sebagai sebuah
identitas sekaligus suatu entitas.
DARI FAKTA KE MAKNA.
Bahasa daerah sebagai bahasa tana
lahir dari usaha manusia untuk berhubungan dengan tanah tempat berpijaknya.
Inilah makna bahasa sebagai
gambaran tradisi.
Bahasa menjadi symbol identitas
dari ikatan manusia dengan tanahnya.
Dari ikatan hakiki inilah kata
“Tradisi” sebagai satu pengertian lahir.
Tradisi adalah apa yang paling
dekat dalam pengalaman kehidupan kita pribadi. Sebuah pengalaman yang khas dan
unik sebagaimana berbedanya sebuah pribadi
dari pribadi yang lain walau pribadi-pribadi ini sama dalam
hakikat sebagai sesama manusia -- Sabermulanya hanyalah setitik bara yang menyalah
dengan hembusan napas ilahi – TOU TANU WAHA, MAWUAYAWUAYA.
“jiwa khas dari suatu bangsa hanya
dapat dipelajari melalui suatu pengetahuan yang mendalam mengenai bahasa bangsa
itu sendiri. Bahasa mengandung semua yang menjiwai hati nurani suatu bangsa dan
oleh sebab itu merupakan landasan test proyektif yang terbaik untuk memahami
bangsa itu sendiri.”
Demikian tegas Takeo Doi, M.D.,
Seorang pemikir asal Jepang, dalam bukunya – Anatomi Dependensi.
Proses menyentuh landasan hakiki
pengertian kata dari mana satu hal menjelaskan maksudnya pada kita dapat
diumpamakan dengan cerita ini :
Lewat tenga hari
Ngana basombar di satu
kompleks pembangunan
Ada tiga laki-laki
samantara bakarja susung tela
Lantaran panasarang
soal dorang mobeking apa
Ngana batanya
“Beking apa, Bos ?”
Tu satu basuara.
“So tau da basusung
tela mo tanya.”
Ngana pindah tanya pa
tu depe sabla
“Beking apa, Bos ?”
Dia bahaga pa ngana
“Ada basusung tela
for beking dinding.”
Dia bilang abis haga
Nyanda puas deng
dorang da bilang,
Ngana haga pa tu satu
tu blum basuara deri tadi
Ngana batanya pa dia
mar masih deng tu partanyaan
“Beking apa, Bos?”
“Torang lagi beking
skola.”
“O”
Arti
terpenting cerita yang ku sadur sebebasnya dari sebuah cerita yang bersumber
dari cerita rakyat dalam “Lead With A Story – Memimpin dengan sebuah cerita”
karya Paul Smith, ada pada jawaban :
Torang lagi
beking skolah.
Dalam
jawaban tersebut, pemahaman yang menyeluruh akan apa yang dimaksudkan menemukan
pengertiannya.
Pemahaman yang menyeluruh akan apa
yang dimaksudkan ini bukan hanya membantu kita untuk melakukan sesuatu secara
lebih baik tapi terlebih membantu kita supaya sungguh-sungguh menghayati apa
yang kita lakukan.
“Saat ini ketika
informasi,hiburan,teman,bahkan pacar virtual yang tampaknya tidak terbatas
dapat membuat anda merasa mampumengendalikan takdir anda sampai tumpukan begitu
dahsyat sehingga efek MEGO (My Eyes Glaze Over – Mataku Terlapisi) terjadi dan
tak ada aksi atau keputusan dibuat kita secara intelektual mengalami kelumpuhan
(Catatonic). Jawaban yang sederhana untuk dilemma ini adalah membuang sebagian,
kalau tidak semua, pilihan yang ada.”
Kata Jacqueline Leo dalam buku berjudul Seven.
Pilihannya menurutku kembali pada
pilihan kata – Daya pengucapan sebuah bahasa.
Bahasa sebagai Sastra.
SASTRA
LAHIR LANTARAN ADA BAHASA
BAHASA
MATI KARNA NDA ADA SASTRA
Pilihan ini menegaskan pendapat
bahwa bahasa daerah (baca : bahasa tana/bahasa manado) akan terus bertumbuh
dengan kokoh bila berpadu dengan semangat untuk terus mengupayakan hidup yang
lebe hidop dalam wujud – CIPTA – Sastra.
Kenyataan ini memastikan bahwa
upaya melestarikan bahasa daerah adalah sebuah aksi literasi.
Sebagai pendahuluan aku tulis sair
ini :
Esa
Cita Waya
Tou
Peleng Masuat
Cawana
Si Parukuan
Cawana
Si Pakuruan
Pute
Waya
Tou
Maesa Cita
I Pa
Tu’tua Im Pelepeleng
I Pa
Tu’tua Im Bayawaya
Se
Tua Sera Se Maku’kung
Se
Puyun Wo Se Koki Maki’it
Makasa
Kumopat Siow Kuntung Kalangkoian
Ini lagi satu puisi :
SUMONDER FUCKING BLUES
Tahuk
soresore di kantin sastra
Dengar
Rolling Stone,
“I got the
blues”
Dari Ebit pe
radio
Qta minung
kopi tumbu
Om Manus ada
beking
“bukang maen
ini kopi !”
Qta bilang
pa Coy
“Pantas kopi
dari Manado
Jadi kopi
paling mahal
Di pasar
Eropa
Nyanda heran
kote
Pamerenta
blanda dulu
Paksa orang
Minahasa
Batanang
kopi
Ada 80 sampe
120 hari pertaong
Torang pe
oma deng opa dulu
Musti kase
waktu
Urus kopi di
kobong
Depe laste
Kopi yang
dorang tanang susasusa itu
Dorang musti
jual pa pamerenta blanda deng harga
murah
Kopi yang
dorang tanang susasusa itu
Dorang nimbole
minung sandiri
Dorang tu
nimau jual tu kopi
Dapa hongi
deng anjing
Dapa pukul
deng cambok
Tahuk
soresore di kantin sastra
Gudang garam
surya di bibir
Tinggal
saujung kuku
Abu roko
yang tatarbang
Angin paka
kagekage
Kase inga
abu pohong cingke
Orang Sonder
ada potong
Di kobong
Lengkoan, tetebesi,tundak,mapaso,
Lopa in
tana, kokoken, pulutan, talun, mawale,
Lalek deng
lopa in kopi
Orang Sonder
ada potong
For beking
kayu api
Pohongpohong
cingke
Dorang
beking kayu api
Lantaran
pamerenta Repoblik Indonesia
Mulai dari
Soeharto sampe SBY
Beking
cingke nyanda ada harga sama skali
“Cuma jaman
Gusdur katu”, dorang bilang
“Harga
cingke bole tanae
Riki bole
tiki saratus ribu lebe perkilo”
Co ngoni
bayangkan
Orang gunung
turung Manado
Bawa satu
datsun cingke kring
Babale
kamari so deng doi satu karong
Kong tu
datsun fol deng barang blanjaan
Dari kulkas
sampe handpon
Tahuk
soresore di kantin sastra
Kopi tinggal
tasisa ampas
Roko di jare
tinggal tasisa puntung
Dari Ebit pe
radio
Mick Jagger
manyanyi
Bob Dylan pe
puisi
“how does it
feel
How does it
feel
To be on
your own
With no
direction home
Like a
complete unknown
Like a
rolling stone?”
Qta buang tu
puntung
Dari sela
jarejare
Kong ambe
tas abis bayar kopi
“Pulang
Fred”, Ie’ tanya
“Qta mo ka
puncak Temboan Rurukan
Qta, Weol,
Sondey, Oroh deng Kalalo
Qta mo lia
sanrais sambil babaca puisi !”
Penghabisan sebuah madah
pemberontak :
Kita tidak lagi mesti
Terpaku pada tatakrama
segala
Minta janji ditepati
Kita tidak lagi mesti
Terpesona pada senyum
perempuan pingitan
Minta cinta dihargai
Kita tidak lagi mesti
Terpasung pada setiap
aturan larangan
Minta sumpah ditaati
Mari,
Ikutkan irama lapar
menggelegak
Dan hanguskan desah
napas
Memburu pagutan
perempuan dursila
Tidak perduli yphilis
ngeram dalam nadi
Sedikit lagi
bertambah terinfeksi HIV
Mencinta layak tak
ada lagi hari esok
Jelajahi
lembah-lembah ajaib Venus
Gunung-gunung
menjulang dengan kepundan membara
Berlaku segila
Nietsche – Gott Ist Tott !!
Belum cukup diri
Tembak-ledakkan
dahimu seperti
Laki berkuning rok
punya hitam kaca mata
Terkekeh seolah punya
sepuluh jiwa –
TERKUTUK
*
Sastrawan dan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unsrat Manado
