MENGUAK AKAR POSITIVISME DALAM WACANA TENTANG PEMERINTAHAN TOU MAESA




Oleh: Fredy M.S.B. Wowor

 

SUATU HARI DI TAHUN 2004

Dalam  perjalanan  ke Manado sehabis diskusi budaya bersama Komunitas Sumikola di Tomohon. Seorang teman seperjalanan  mengemukakan sebuah  pernyataan menarik  kepadaku.

Dia menyatakan bahwa dalam soal pemerintahan  orang Minahasa sedikit lebih terbelakang dibandingkan dengan orang Sangir dan Talaud.  Alasannya mengatakan demikian,  karena orang Sangir dan Talaud mengenal sistem pemerintahan kerajaan, sedangkan tou maesa tidak mengenal sistem pemerintahan kerajaan.

Pernyataan seperti ini menurutku lahir dari asumsi bahwa berlakunya sistem kerajaan pada satu  masyarakat adalah pertanda adanya kemajuan dalam satu masyarakat, dalam hal ini dari masyarakat tanpa pemerintahan (Baca: tanpa hirarki pemerintahan) ke masyarakat yang diperintah oleh seorang raja (baca : masyarakat yang punya pemerintah).

TINJAUAN KE MASA AWAL KEDATANGAN ORANG EROPA

Pernyataan yang mengandung wacana seperti  ini, sebenarnya bukan baru kali ini dikatakan kepada tou maesa. Beberapa ratus tahun yang lalu, dalam laporan pater Blas Palomino O.F.M, pada tanggal 8 Juni 1619  tertulis :

”saya melihat halangan besar untuk memulaikan suatu kegiatan disana, yakni diantara mereka itu tidak terdapat suatu struktur pemerintahan yang sebenarnya. Bila misalnya ada seorang kepala atau seorang pemimpin, maka yang pertama-tama ia harus lakukan, ialah mengambil atau merebut hati bawahannya. Memang, cara hidup mereka yang sebenarnya, ialah mereka mengatur diri sendiri saja. Memang, mereka sedemikian jauh dari beradap, sehingga masing-masing laki-laki maupun perempuan boleh berbuat apa saja yang baik menurut pemikirannya. Tak seorangpun dapatmengendalikan mereka. Dengan begitu, saya sebagai biarawan, merasa seakan-akan diserahkan  begitu saja kepada kebarbaran mereka itu, karena tiada seorangpun dari antara mereka yang mau mendengarkan berita kebenaran atau sepotong katapun dari seorang biarawan.” (Paassen,Y. Blas Palomino O.F.M dan Lorenso Garralda O.F.M. 2003:23). (Penekanan dari penulis esei ini).

Berdasarkan  laporan tentang perjalanan dan usaha-usaha untuk mengajak orang pribumi di pedalaman sekitar Manado khususnya wilayah Kali masuk Kristen ini, dapat kita lihat bahwa cara pandang yang bersifat mendiskreditkan terhadap tou maesa yang dikatakan tidak memiliki struktur pemerintahan telah terdapat dalam  pernyataan para pendeta yang datang menyiarkan agama Kristen.

Pendapat mereka ini bahkan telah bersenyawa dengan konsep superioritas peradapan yang secara sepihak menjustifikasi orang lain yang berbeda dengan mereka sebagai orang barbar.

Pendapat yang kemudian menjadi salah satu landasan pemikiran dari imperialisme  dan kolonialisme.

AKAR POSITIVISME DALAM WACANA TENTANG PEMERINTAHAN TOU MAESA

 Apabila kita kaji lebih mendalam lagi , maka  asumsi pemikiran ini dapat ditelusuri  lagi  hakikatnya pada cara pandang yang kemudian bermuara  menjadi sebuah aliran pemikiran yang dikenal dengan sebutan positivisme.

Cara pandang ini berhulu pada keyakinan bahwa kehidupan manusia di dunia ini mengalami perkembangan  sepanjang jalur tunggal yang sudah bisa dipastikan.

            Perkembangan umat manusia ini dimulai dari masyarakat yang rendah potensi budayanya menuju  masyarakat  yang lebih baik tingkat kebudayaannya yang puncaknya dapat disaksikan pada peradaban Eropa khususnya Eropa Barat.

Konsep kemajuan yang melandasi perkembangan umat manusia ini dapat dirinci dalam beberapa komponen utama seperti yang ditulis  Piotr Sztompka dalam  bukunya yang berjudul “Sosiologi Perubahan sosial”:

(1) Adanya pemikiran tentang waktu yang tak dapat diubah, mengalir menurut garis lurus dan berlanjut dari masa lalu, kini, dan ke masa mendatang. Menurut definisi, kemajuan mengandung nilai positif, membedakan antara keadaan masa lalu dan masa kini (mencapai kemajuan) atau antara keadaan kini dan masa mendatang (membayangkan kemajuan). (2) adanya pemikiran tentang gerakan menurut garis lurus, tak ada tahap yang terulang dengan sendirinya dan setiap tahap yang kemudian terjadi makin mendekatkan ke tujuan akhir yang diharapkan.(3) Adanya pemikiran tentang proses kumulatif, yang meningkatsetahap demi setahap secara revolusioner melalui lompatan kualitatif secara periodic. (4) Adanya perbedaan tipe “tahap penting” (fase epos) dari proses yang dilewati. (5) Adanya penekanan pada factor endogen (internal,bawaan) sebagai penyebab proses bawaan yang muncul sebagai tenaga penggerak sendiri (auto-dinamis), atau dengan kata lain, sebagai pengubah potensi internal yang terdapat dalam masyarakat yang mengalami perubahan itu. (6) Proses itu dianggap tak terelakan, penting dan alamiah; tak dapat dihentikan atau dibelokkan, dan peningkatan, dalam arti bahwa setiap tahap proses yang berurutan dinilai lebih baik daripada tahap sebelumnya, mencapai titik puncaknya di tahap terakhir yang diharapkan menghasilkan tercapainya nilai seperti kebahagiaan, kemakmuran, kemerdekaan, persamaan, keadilan dan sebagainya(2008:28).

 ARGUMENTASI POSITIVISTIK BERUJUNG PADA USAHA MENIADAKAN KEBERADAAN DARI EKSISTENSI YANG LAIN

Berdasarkan uraian-uraian di atas dapat ditarik kesimpulan  bahwa pernyataan yang mengatakan bahwa tou maesa terbelakang karena mereka tidak mengenal kerajaan  tidak bisa diterima kebenarannya.

Pernyataan seperti itu menurutku mengandung nilai kesepihakan. Pernyataan tersebut dibangun di atas dasar argumentasi yang bersifat positivistik yang puncaknya berujung pada usaha meniadakan keberadaan dari eksistensi yang lain.

Adapun usaha meniadakan keberadaan dari eksistensi yang lain ini, tak bisa tidak berarti selain dari  usaha dehumanisasi dan usaha dehumanisasi dimanapun  musti dilawan keberadaannya sebelum ia menggerogoti daya hidup kita, karena manusia yang telah kehilangan daya hidup berarti telah kehilangan harganya sebagai manusia. Mereka tak ubahnya  bangkai  berjalan yang terseok-seok menelusuri jalanan  panjang tanpa batas. Mereka tak memiliki arti lagi.