FILM KAWASARAN SUMONDER REBORN

Kawasaran Sumonder Reborn
Kawasaran Sumonder Reborn, film dokumenter produksi Wale Papendangan tentang kemunculan kembali Kawasaran Sumonder di Sonder, Minahasa.
ARSIP WALE PAPENDANGAN · FILM DOKUMENTER · 2018

Kawasaran Sumonder Reborn: Ketika Ingatan Kebudayaan Kembali Menemukan Ruangnya

Sebuah film dokumenter Wale Papendangan tentang upaya generasi muda Sonder menghadirkan kembali Kawasaran Sumonder dan membaca kembali sejarah, makna, serta tempatnya dalam kehidupan masyarakat.

Wale Papendangan, Sonder · Peluncuran film, 18 Januari 2018

Kawasaran Sumonder Reborn lahir dari sebuah pertanyaan sederhana, tetapi penting: apa yang terjadi ketika sebuah bentuk kebudayaan yang lama tidak lagi dipentaskan kembali dihadirkan oleh generasi sekarang? Film dokumenter produksi Wale Papendangan ini merekam kemunculan kembali Kawasaran Sumonder di Sonder, Minahasa, sekaligus berusaha memahami alasan, sejarah, istilah, gerak, syair, dan nilai yang berada di belakang kemunculan tersebut.

Dalam film ini, Sumonder digunakan untuk menyebut orang-orang yang berasal dari atau hidup di Sonder. Kawasaran Sumonder dengan demikian merujuk pada bentuk Kawasaran yang dikenal melalui ingatan dan pengetahuan masyarakat Sonder sendiri.

Kawasaran dalam catatan yang menjadi dasar film dipahami sebagai bagian dari tradisi adat Minahasa. Namun film ini tidak hanya berusaha memperlihatkan pertunjukannya. Ia mencoba masuk lebih jauh: bagaimana orang Sonder memahami Kawasaran, bagaimana ingatan tentangnya bertahan, dan mengapa sebagian generasi muda merasa perlu menghadirkannya kembali.

Sebuah Tradisi yang Lama Tidak Dipentaskan

Dalam penuturan yang menjadi dasar produksi film, Kawasaran Sumonder disebut terakhir kali dipentaskan sekitar abad ke-19. Setelah itu, bentuk Kawasaran tersebut tidak lagi hadir dalam pertunjukan masyarakat Sonder untuk waktu yang panjang.

Pengetahuan mengenai Kawasaran Sumonder tidak sepenuhnya hilang. Ingatan mengenai bentuk, syair, gerak, dan ciri-cirinya masih tersimpan dan kemudian menjadi salah satu pijakan bagi upaya generasi berikutnya untuk mempelajarinya kembali.

Dalam catatan Wale Papendangan, Kawasaran Sumonder memiliki beberapa perbedaan dalam syair maupun gerak jika dibandingkan dengan bentuk-bentuk Kawasaran lain yang lebih umum dikenal.

Karena itu, “reborn” dalam film ini bukan sekadar berarti menampilkan kembali sebuah tarian. Ia menunjuk pada proses mencari, mengingat, mempelajari, dan menghadirkan kembali pengetahuan yang lama tidak memperoleh ruang pertunjukan.

Generasi Muda dan Kemunculan Kembali Kawasaran Sumonder

Pada 2017, sekelompok orang Sonder—sebagian besar berasal dari generasi muda—mengambil inisiatif untuk menghadirkan kembali Kawasaran Sumonder.

Kemunculan tersebut bukan semata-mata upaya membuat pertunjukan baru. Di belakangnya terdapat proses untuk mencari kembali pengetahuan mengenai Kawasaran yang pernah hidup di Sonder dan memikirkan bagaimana pengetahuan itu dapat memperoleh tempat dalam kehidupan masyarakat masa kini.

Kawasaran Sumonder kemudian tampil dalam pentahbisan gedung Gereja Katolik di Sonder. Momen inilah yang menjadi bagian penting dari dokumentasi film.

Pertunjukan tersebut juga membuka sebuah ruang pembacaan yang menarik: bagaimana kebudayaan Minahasa dan kehidupan kekristenan bertemu dalam kehidupan masyarakat Sonder.

Film tidak hanya merekam sebuah pertunjukan. Ia merekam sebuah peristiwa kebudayaan: saat generasi baru mencoba membangun kembali hubungan dengan pengetahuan yang pernah hidup di tempat mereka sendiri.

Film sebagai Dokumentasi dan Ruang Pengetahuan

Materi pertunjukan perdana Kawasaran Sumonder menjadi salah satu bagian penting film. Namun Kawasaran Sumonder Reborn tidak disusun hanya sebagai rekaman acara.

Film ini dikembangkan sebagai dokumenter untuk menjelaskan kepada publik—terutama masyarakat Sonder—mengapa Kawasaran Sumonder dihadirkan kembali.

Di dalamnya, pembicaraan mengenai Kawasaran diarahkan pada terminologi, sejarah, gerak, syair, dan nilai filosofis berdasarkan sudut pandang dan pengetahuan orang Sonder sendiri.

Pendekatan tersebut penting bagi Wale Papendangan. Dokumentasi kebudayaan tidak seharusnya hanya mengambil gambar suatu tradisi, kemudian memisahkannya dari orang-orang yang menjalankannya. Dokumentasi juga perlu memberi ruang kepada masyarakat untuk menjelaskan pengetahuan dan pengalaman mereka sendiri.

Wale Papendangan dan Dokumentasi Kebudayaan

Kawasaran Sumonder Reborn diproduksi oleh Wale Papendangan.

Pada masa produksi film ini, Wale Papendangan berkembang sebagai sebuah rumah bersama di Sonder yang memberi perhatian pada sastra dan kebudayaan Minahasa. Ruang ini berada di rumah budayawan Minahasa Fredy Sreudeman Wowor.

Gagasan wale sebagai rumah belajar menjadi penting dalam proses tersebut. Rumah tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi dapat menjadi tempat penelitian, diskusi, produksi karya, pemutaran film, pertukaran pengetahuan, dan pertemuan antargenerasi.

Produksi film ini merupakan salah satu bentuk dokumentasi kebudayaan melalui medium audiovisual. Kamera digunakan bukan hanya untuk menyimpan gambar, tetapi untuk merekam cerita, suara, pengalaman, penjelasan, dan konteks yang berada di sekitar sebuah praktik budaya.

Pemutaran film Kawasaran Sumonder Reborn
Rumah menjadi ruang pemutaran, diskusi, dan perjumpaan antara film dengan masyarakat.

18 Januari 2018: Film Kembali kepada Komunitas

Pada 18 Januari 2018, Kawasaran Sumonder Reborn diluncurkan di Wale Papendangan, Sonder.

Undangan kegiatan sengaja disebarkan hanya beberapa jam sebelum acara berlangsung. Meski demikian, banyak orang datang. Rumah tempat kegiatan berlangsung dipenuhi penonton, sementara tidak semua anggota Kawasaran Sumonder maupun jejaring seniman dan budayawan Mawale Movement sempat hadir.

Respons tersebut menunjukkan besarnya minat masyarakat terhadap film yang mengangkat seni tradisi, adat, dan kebudayaan dari lingkungan mereka sendiri.

Sebelum pemutaran, Fredy Wowor sebagai Makawale Wale Papendangan menyampaikan pengantar mengenai dasar dan tujuan pembuatan film. Setelah itu, film mulai diputar.

Jumlah orang yang datang membuat film harus diputar empat kali untuk empat kelompok penonton. Rumah Wale Papendangan untuk satu malam berubah menjadi semacam bioskop kecil di Sonder.

Nonton, Makan, Bacirita

Pemutaran film tidak berdiri sendiri sebagai acara formal. Setelah menonton, percakapan berlanjut dalam suasana rumah.

Teman-teman Kawasaran Sumonder—di antaranya Carlos, Gravit, Daniel, Junaidi, dan kawan-kawan lainnya—menyiapkan jamuan bagi orang-orang yang hadir.

Ubi bete rebus, dabu-dabu, dan pinaraci menemani malam Sonder yang dingin.

Dari menonton film, orang kemudian masuk ke dalam diskusi. Percakapan berlangsung hingga larut malam. Sebagian orang berpamitan dan pulang satu per satu, sementara beberapa kawan memilih menginap dan baru kembali keesokan harinya.

Situasi seperti ini memperlihatkan bentuk lain dari kehidupan film. Film tidak selesai ketika layar menjadi gelap. Ia justru dapat membuka percakapan baru mengenai sejarah, kebudayaan, ingatan, dan kehidupan masyarakat yang direkamnya.

Bagi Wale Papendangan, pemutaran film di rumah adalah bagian dari pendidikan kebudayaan: karya kembali kepada komunitas, ditonton bersama, dipertanyakan, dibicarakan, dan diberi makna melalui pengalaman orang-orang yang hadir.

Kawasaran, Kekristenan, dan Ruang Hidup Kebudayaan

Salah satu lapisan penting dalam film adalah kenyataan bahwa kemunculan kembali Kawasaran Sumonder direkam dalam sebuah peristiwa yang berlangsung di lingkungan gereja.

Pertemuan ini memperlihatkan bahwa kehidupan kebudayaan di Sonder tidak selalu dapat dibaca melalui pemisahan sederhana antara “adat” dan “agama”. Dalam kehidupan sehari-hari, keduanya dapat berjumpa, bernegosiasi, dan memperoleh bentuk baru.

Film tidak harus memberikan jawaban tunggal mengenai hubungan tersebut. Dokumenter justru dapat menjadi ruang untuk memperlihatkan kenyataan, mendengar penjelasan masyarakat, dan membuka percakapan yang lebih luas.

Diskusi setelah pemutaran Kawasaran Sumonder Reborn
Pemutaran dilanjutkan dengan percakapan dan diskusi hingga larut malam.

Dari Ingatan Menjadi Arsip

Kehadiran kembali Kawasaran Sumonder memperlihatkan bahwa pelestarian kebudayaan tidak selalu berarti mempertahankan sesuatu dalam keadaan yang tidak berubah.

Ada proses mencari kembali, bertanya kepada orang lain, mempertemukan ingatan, belajar gerak dan syair, mencoba, mempertunjukkan, mendokumentasikan, dan kemudian membicarakannya kembali.

Film menjadi salah satu arsip dari proses tersebut. Ia menyimpan gambar dan suara, tetapi juga menyimpan sebuah momen ketika masyarakat Sonder sedang mencoba membaca kembali salah satu bagian dari kebudayaannya.

Karena itu, nilai dokumenter ini tidak hanya berada pada gambar Kawasaran yang berhasil direkam. Nilainya juga terdapat pada pertanyaan yang dibawanya: bagaimana sebuah generasi membangun kembali hubungan dengan pengetahuan yang diwariskan kepadanya?

KAWASARAN SUMONDER REBORN
Film Dokumenter

Produksi: Wale Papendangan
Tentang: kemunculan kembali Kawasaran Sumonder, sejarah, terminologi, gerak, syair, dan nilai yang dipahami dari pengalaman masyarakat Sonder.

Peluncuran film:
18 Januari 2018
Wale Papendangan, Sonder, Minahasa

Suasana pemutaran Kawasaran Sumonder Reborn, pertemuan, diskusi, dan kebersamaan di Wale Papendangan.

Dokumentasi Kawasaran Sumonder Reborn

Kawasaran Sumonder Reborn akhirnya tidak hanya menjadi dokumentasi mengenai munculnya kembali sebuah bentuk Kawasaran. Film ini juga menjadi catatan mengenai orang-orang yang memilih untuk mencari kembali pengetahuan kebudayaannya dan memberinya ruang dalam kehidupan masa kini.

Dari pertunjukan lahir dokumentasi. Dari dokumentasi lahir film. Dari film lahir percakapan. Dan dari percakapan, ingatan kebudayaan memperoleh kesempatan untuk terus dipelajari.

Di sinilah Wale Papendangan menempatkan film sebagai bagian dari kerja kebudayaan: bukan hanya merekam apa yang terlihat, tetapi membantu masyarakat membaca kembali pengetahuan, sejarah, dan kehidupan mereka sendiri.

Wale Papendangan · Kawasaran Sumonder · Kawasaran Sumonder Reborn · Film Dokumenter · Sonder · Minahasa · Dokumentasi Kebudayaan · Mawale Movement · Seni Tradisi · Arsip Kebudayaan