Festival Musim Cingkeh
Festival Musim Cingkeh 2016: Belajar dari Kebun, Seni, Sastra, dan Kehidupan
Dari kobong cingkeh, Wale Papendangan mempertemukan pengalaman hidup, pengetahuan Minahasa, seni tradisi, sastra, dan percakapan dalam sebuah festival.
Festival Musim Cingkeh 2016 merupakan salah satu kegiatan Wale Papendangan yang tumbuh dari proses belajar bersama. Festival ini dikembangkan sebagai kelanjutan dari Class Wale Papendangan, dengan membawa proses pendidikan keluar dari ruang belajar dan mempertemukannya secara langsung dengan kebun, musim, seni, sastra, cerita, dan pengalaman hidup Tou Minahasa.
Musim cingkeh bukan hanya waktu panen. Di dalamnya terdapat pengalaman tentang kerja, tanah, perjalanan ke kebun, kehidupan petani, hubungan keluarga, ekonomi kampung, makanan, percakapan, ingatan, serta berbagai pengetahuan yang tumbuh bersama kehidupan masyarakat Minahasa.
Dari kenyataan itulah Festival Musim Cingkeh dibangun: bukan semata-mata sebagai panggung pertunjukan, tetapi sebagai ruang untuk belajar dari kehidupan yang sedang berlangsung.
Dari Class Wale Papendangan ke Festival
Festival Musim Cingkeh merupakan kelanjutan dari proses yang sebelumnya berlangsung dalam Class Wale Papendangan. Apa yang dibicarakan dalam kelas dibawa keluar untuk diuji dan dipelajari kembali melalui kehidupan nyata.
Kebun menjadi ruang belajar. Petani menjadi sumber pengetahuan. Musim menjadi penanda waktu. Seni, sastra, musik, dan percakapan menjadi cara untuk membaca pengalaman tersebut.
Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berlangsung melalui penjelasan seorang pengajar. Pengetahuan juga ditemukan melalui berjalan, melihat, mendengar, bekerja, bercakap-cakap, membaca, menulis, dan mengalami sendiri kehidupan masyarakat.
Festival Musim Cingkeh memperlihatkan salah satu dasar pendidikan Wale Papendangan: manusia, alam, dan segala yang hidup dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus sumber pembelajaran.
Hari Pertama: Cingkeh, Minahasa, dan Maasar um Banua
Hari pertama dimulai ketika peserta dan para pengisi acara berkumpul. Salah satu agenda penting adalah sesi brainstorming “Cingkeh, Minahasa & Maasar um Banua”.
Percakapan tersebut menjadi ruang untuk menempatkan cingkeh dalam hubungan yang lebih luas dengan kehidupan Tou Minahasa. Cingkeh tidak dibicarakan hanya sebagai hasil kebun, tetapi sebagai bagian dari pengalaman hidup, ruang, ekonomi, kebudayaan, dan kehidupan bersama.
Persiapan hari pertama juga diisi dengan penataan kegiatan serta sound check untuk penampilan Kalelon dan Makaaruyen.
Rangkaian Festival
Festival menggabungkan perjalanan ke kebun, seni tradisi, sastra, percakapan, makan bersama, dan pengalaman keseharian. Program yang tercatat dalam Festival Musim Cingkeh 2016 antara lain:
- Tracking ka kobong cingkeh;
- pertunjukan Kalelon;
- pertunjukan Makaaruyen;
- parade baca puisi;
- parade baca cerpen;
- Momasa;
- Makang kong Bacirita;
- Balia kong bacirita kobong cingkeh;
- Balia kong bacirita Orang Bapete.
Rangkaian ini memperlihatkan bahwa festival tidak dibangun dengan memisahkan seni dari kehidupan. Perjalanan ke kebun, pengalaman orang yang memetik cingkeh, cerita, makanan, musik, sastra, dan percakapan ditempatkan dalam satu ruang belajar bersama.
Seni dan Sastra Bertemu dengan Kebun
Kalelon dan Makaaruyen hadir bersama pembacaan puisi dan cerpen. Pertemuan ini memperlihatkan bagaimana seni tradisi dan bentuk-bentuk ekspresi lain dapat hidup dalam ruang yang sama.
Sastra tidak hanya dibaca di ruang kelas. Musik tradisi tidak hanya dipentaskan di panggung formal. Keduanya hadir di tengah pengalaman bersama mengenai musim cingkeh dan kehidupan orang-orang yang bekerja di dalamnya.
Di sini festival menjadi ruang eksperimentasi: seni tradisi dapat bertemu sastra, percakapan, pengalaman lapangan, dan bentuk-bentuk penciptaan yang tumbuh dari generasi sekarang.
Kobong sebagai Ruang Belajar
Perjalanan menuju kobong cingkeh menjadi bagian penting dari festival. Peserta tidak hanya membicarakan cingkeh dari kejauhan, tetapi mendatangi ruang tempat kehidupan di sekitar cingkeh berlangsung.
Dari kebun, pembicaraan mengenai Minahasa memperoleh konteksnya. Ada tanah, pohon, pekerjaan, orang bapete, perjalanan, hasil panen, hubungan sosial, serta cerita yang hanya dapat ditemukan ketika orang hadir dan mendengarkan.
Pendekatan semacam ini menjadi penting bagi Wale Papendangan karena pendidikan kebudayaan tidak seharusnya terpisah dari sumber kehidupan masyarakat itu sendiri.
Festival yang Bertumpu pada Musim
Dalam catatan penyelenggaraan tahun 2016, Festival Musim Cingkeh dirancang sebagai salah satu agenda yang dapat dilakukan kembali oleh Wale Papendangan.
Gagasan festival tersebut bertumpu pada musim dan kehidupan masyarakat. Karena itu, setelah Festival Musim Cingkeh, pada waktu itu Wale Papendangan juga merencanakan Festival Padi Ladang di Minahasa Selatan, bertepatan dengan musim panen padi ladang oleh petani setempat.
Cara berpikir ini menempatkan festival bukan sebagai kegiatan yang dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Waktu pelaksanaannya justru mengikuti peristiwa yang hidup di masyarakat: musim panen, kerja di kebun, seni, makanan, cerita, dan pengetahuan yang menyertainya.
Orang-Orang yang Membuat Festival Hidup
Festival Musim Cingkeh dapat berlangsung karena keterlibatan banyak orang. Ada yang membuka ruang, menjaga kebun, membantu perjalanan, menjadi pengisi acara, belajar bersama, maupun datang sebagai pengunjung.
- Om Eddy, sebagai Makawale Kobong Cingkeh, tempat kegiatan berlangsung.
- Om Soni Monintja, penjaga Kobong Cingkeh yang turut membantu dan mendampingi kegiatan.
- Fredy Wowor, Kalfein Wuisan, Stenli Kumendong, Christofel Manoppo, Bode Talumewo, Mario Maahury, Juan Ratu, Carlos Pessik, Jun, Syalom Paendong, Buyung, dan Fandiko, yang menjadi pengisi acara sekaligus pelajar dalam Class Wale Papendangan.
- Candra Rooroh dan Jeklin Lepar, yang hadir sebagai pengunjung Festival Musim Cingkeh.
- Vidy Toar, yang turut membantu kebutuhan perjalanan selama kegiatan.
Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa sebuah festival tidak hanya dibentuk oleh program di atas kertas. Festival hidup melalui orang-orang yang membuka rumah dan kebun, berbagi pengetahuan, memainkan musik, membaca karya, memasak, berjalan bersama, bercerita, serta menyediakan berbagai kebutuhan sederhana yang memungkinkan pertemuan berlangsung.
Dokumentasi Festival Musim Cingkeh
Festival Musim Cingkeh menjadi salah satu pengalaman awal Wale Papendangan dalam membangun festival yang bertumpu pada pengetahuan, kehidupan, dan pengalaman masyarakat Minahasa sendiri.
Dari kebun, orang belajar tentang musim dan kehidupan. Dari percakapan, pengalaman menjadi pengetahuan. Dari sastra dan seni, pengalaman itu memperoleh bentuk baru untuk dibagikan kepada orang lain.
Dalam pengertian inilah festival menjadi bagian dari pendidikan: sebuah ruang tempat manusia kembali belajar membaca hubungan antara dirinya, alam, kebudayaan, dan kehidupan bersama.
Amang Kasuruan Sang Sumber Berkat memberkati kita semua.”