Dua Dekade Mawale dalam Ingatan Audio Visual: Membuka Kembali Perjalanan Sejak 2005 di Wale Papendangan
Pada Sabtu, 5 Juli 2025, Wale Papendangan di Sonder menjadi salah satu ruang untuk melihat kembali perjalanan panjang Mawale Movement melalui kegiatan “Mawale Movement: 2 Dekade dalam Ingatan Audio Visual — Kaleidoskop Mawale Sejak 2005.” Pertemuan yang dimulai pukul 13.00 WITA itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan dua dekade Mawale Movement, sekaligus kesempatan untuk membuka kembali ingatan mengenai orang-orang, peristiwa, karya, gagasan, dan jaringan yang membentuk gerakan tersebut selama kurang lebih dua puluh tahun.
Perayaan dua dekade Mawale pada 2025 memang tidak ditempatkan sebagai satu acara tunggal. Catatan PUKKAT menyebut peringatan tersebut disusun melalui sejumlah kegiatan yang dikerjakan bersama maupun secara mandiri oleh jaringan-jaringan Mawale sesuai bidang perhatian masing-masing. Sebelumnya telah berlangsung Papendangan Festival, Sekolah Jurnalisme, serta Festival Budaya pada 28 Juni 2025 yang menghadirkan pertunjukan seni, pameran buku, kampanye antikekerasan berbasis gender, dan berbagai kegiatan jaringan. (Pukkat)
Di tengah rangkaian itulah Wale Papendangan membawa perhatian kepada sesuatu yang sering luput ketika sebuah gerakan mencapai usia panjang: arsip dan ingatan.
Kembali melihat dua puluh tahun perjalanan
Mawale Movement tumbuh dari kegelisahan kebudayaan yang muncul pada awal 2000-an. Sejumlah dokumentasi lama menunjukkan bahwa proses pembangunan basis-basis seni dan kebudayaan telah berlangsung sejak penghujung 2004, sementara pada 2005 Mawale Movement diproklamasikan sebagai gerakan yang membawa gagasan “kembali ke asal” dan penyadaran identitas Minahasa. Dalam periode tersebut, sastra, teater, musik, penerbitan, pendidikan alternatif, dan pembentukan jaringan menjadi bagian penting dari cara gerakan ini bekerja. (Iverdixontinungki)
Jejak lama itu penting karena Mawale sejak awal tidak berkembang seperti organisasi dengan struktur komando yang terpusat. Catatan reflektif dua dekade Mawale pada 2025 menyebutnya sebagai gerakan yang hidup melalui jaringan organisasi, komunitas, dan individu yang memiliki visi bersama, tetapi tetap mempunyai kemerdekaan untuk bekerja dan menciptakan program sesuai konteks masing-masing. (Pukkat)
Karena itu, sejarah Mawale tidak mungkin dibaca hanya melalui satu organisasi, satu sekretariat, atau satu orang. Ia tersebar.
Jejaknya berada pada kelompok teater yang pernah dibangun di kampung-kampung, buku yang diterbitkan secara independen, diskusi, perjalanan, sekolah alternatif, pertunjukan, blog, foto, film, rekaman kegiatan, dan terutama pada orang-orang yang pernah terlibat di dalamnya.
Bahkan pada akhir 2000-an, jaringan Mawale telah menggunakan internet untuk membawa karya sastra dan kebudayaan lokal ke ruang yang lebih luas. Catatan lama menyebut pembangunan jaringan blog sastra serta berbagai penerbitan independen sebagai bagian dari pekerjaan tersebut. (Pinawetengan Muda)
Dua puluh tahun kemudian, sebagian dari jejak itulah yang menjadi penting untuk dibuka kembali.
Mengapa ingatan audio visual?
Ketika sejarah sebuah gerakan hanya disimpan dalam ingatan orang, ada bagian-bagian yang perlahan akan hilang. Nama sebuah kegiatan dapat terlupakan, wajah orang-orang yang pernah bekerja bersama tidak lagi dikenali, tempat berubah, dan generasi yang datang kemudian hanya mendengar potongan cerita.
Dokumentasi audio visual memberi kemungkinan lain.
Sebuah foto dapat memperlihatkan siapa yang berada dalam satu ruang pada suatu masa. Video dapat menyimpan suara, gestur, pertunjukan, bahasa, cara orang berbicara, bahkan suasana sebuah pertemuan. Poster dan rekaman kegiatan dapat membantu menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa berikutnya.
Karena itu, “Kaleidoskop Mawale Sejak 2005” dapat dibaca lebih dari sekadar kegiatan nostalgia. Membuka kembali arsip berarti mencoba memahami bagaimana sebuah gerakan berubah sepanjang waktu.
Ada gagasan yang bertahan, ada metode kerja yang berubah, ada komunitas yang muncul, ada generasi baru yang kemudian mengambil peran, dan ada pula persoalan kebudayaan yang dua puluh tahun lalu dibicarakan tetapi ternyata masih relevan sampai sekarang.
Dengan melihat kembali dokumentasi, sejarah tidak hanya diceritakan berdasarkan apa yang kita ingat hari ini. Arsip memungkinkan masa lalu berbicara melalui jejaknya sendiri.
Mawale dan pencarian kembali identitas
Pada 2015, Nathan Jacobson dan Erica Larson menulis kajian berjudul “Going Back Home”: The Mawale Movement and the Rediscovery of Minahasan Identity. Mereka membaca Mawale sebagai gerakan di Sulawesi Utara yang berusaha memusatkan kembali perhatian pada identitas Minahasa dan secara kritis mempertanyakan bagaimana identitas tersebut dibentuk oleh sejarah kolonialisme, agama, dan perubahan masyarakat. (Koleksi Digital SIT)
Pembacaan seperti itu membantu memahami mengapa istilah mawale menjadi penting.
Dalam pemaknaan gerakan, mawale tidak berarti kembali ke masa lalu lalu menganggap semua yang lama harus diterima tanpa kritik. Catatan dari lingkungan Mawale sendiri menjelaskan bahwa “kembali ke rumah” justru merupakan proses untuk memaknai kembali kebudayaan sesuai persoalan zaman. (Mawale Diskusi)
Hal yang sama kembali ditegaskan dalam refleksi dua dekade Mawale pada 2025. “Wale” dipahami sebagai rumah bersama, tetapi kembali ke rumah berarti kembali kepada nilai dan pengetahuan untuk kemudian membacanya ulang dalam konteks yang terus berubah. (Pukkat)
Dengan demikian, arsip dua puluh tahun bukan digunakan untuk membangun mitologi bahwa masa lalu Mawale selalu sempurna. Arsip justru dapat dipakai untuk bertanya kembali: apa yang pernah dilakukan, apa yang berhasil, apa yang terhenti, apa yang berubah, dan apa yang masih perlu dikerjakan?
Wale Papendangan dalam perjalanan Mawale
Pemilihan Wale Papendangan di Sonder sebagai ruang untuk kegiatan ingatan audio visual ini juga mempunyai hubungan dengan perjalanan jaringan Mawale.
Wale Papendangan berkembang sebagai rumah kebudayaan yang bekerja melalui sastra, diskusi, seni pertunjukan, penelitian, dokumentasi, film, dan pendidikan alternatif. Dalam data kebahasaan pemerintah, Wale Papendangan Sonder juga tercatat sebagai komunitas bahasa/sastra yang berada di Desa Talikuran, Kecamatan Sonder. (Data Referensi Kemendikdasmen)
Namun hubungan Wale dengan Mawale lebih penting dipahami melalui praktiknya daripada melalui status administratif.
Gagasan rumah sebagai ruang belajar, pembangunan basis kebudayaan, pertemuan lintas generasi, serta kebebasan melakukan eksperimen seni mempunyai hubungan yang kuat dengan model jaringan Mawale. Sebuah gerakan tidak harus terus-menerus berkumpul dalam satu pusat. Ia dapat bertumbuh ketika berbagai rumah dan komunitas mengembangkan kerja masing-masing sambil tetap berhubungan dalam semangat yang lebih luas.
Dalam konteks itulah Wale Papendangan dapat dibaca sebagai salah satu ruang tempat semangat tersebut memperoleh bentuk yang konkret.
Rumah digunakan untuk diskusi. Seniman datang untuk bekerja. Film dibuat. Kawasaran dibicarakan dan dipraktikkan. Buku diluncurkan. Orang muda bertemu orang yang lebih tua. Pengetahuan tradisi bertemu praktik seni kontemporer.
Maka ketika Wale Papendangan menjadi tempat untuk membuka kembali arsip dua dekade Mawale, kegiatan itu sekaligus seperti melihat sejarah yang sebagian jejaknya pernah melewati rumah-rumah dan jaringan semacam ini.
Dari sastra menuju jaringan kebudayaan
Jika perjalanan Mawale dilihat sejak awal 2000-an, sastra mempunyai tempat yang penting. Catatan tentang para pelakunya menunjukkan bagaimana penulisan puisi, teater, penerbitan buku, dan penggunaan bahasa lokal berkembang berdampingan dengan pembangunan kelompok-kelompok seni. Pada 2009, misalnya, dokumentasi mengenai jaringan Mawale sudah mencatat kegiatan diskusi, sekolah alternatif, mentoring, workshop seni, sastra, fotografi, dan teologi. (Iverdixontinungki)
Perjalanan berikutnya membuat medan kerja semakin luas.
Persoalan identitas kemudian bertemu penelitian sejarah, agama dan kepercayaan, lingkungan, masyarakat adat, perempuan dan anak, pendidikan, film, jurnalistik, dokumentasi, hingga kritik terhadap berbagai bentuk kekerasan dan penyeragaman kebudayaan.
Dalam perayaan dua dekade 2025, keluasan jaringan tersebut terlihat cukup jelas. PUKKAT mencatat bahwa beberapa kegiatan dikerjakan oleh puluhan organisasi dan komunitas, sementara jaringan lain menyelenggarakan kegiatan berdasarkan perhatian masing-masing. Festival dua dekade bahkan mempertemukan pertunjukan budaya dengan pameran buku dan kampanye antikekerasan berbasis gender. (Pukkat)
Hal tersebut memperlihatkan bahwa Mawale bergerak dari sebuah kesadaran kebudayaan menuju sebuah jejaring yang mempunyai banyak pintu masuk.
Orang dapat masuk melalui puisi, musik, teater, penelitian, pendidikan, masyarakat adat, film, atau kegiatan sosial. Yang menghubungkan semuanya bukan keseragaman bentuk, tetapi usaha untuk terus membaca Tou, tana', serta kehidupan Minahasa secara kritis.
Dua dekade bukan museum
Ada risiko ketika sebuah gerakan memasuki usia dua puluh tahun: sejarahnya mulai dianggap sebagai sesuatu yang sudah selesai.
Nama-nama lama disebut, dokumentasi lama diputar, lalu semuanya berhenti menjadi kenangan.
Tetapi semangat Mawale sejak awal justru tidak mengarah ke sana. Penelitian akademik mengenai gerakan ini maupun tulisan dari lingkungan Mawale sendiri sama-sama memperlihatkan adanya proses pencarian dan pemaknaan kembali identitas, bukan sekadar usaha mengembalikan masyarakat kepada bentuk kehidupan masa lampau. (Koleksi Digital SIT)
Karena itu, menonton kembali dua puluh tahun perjalanan semestinya juga berarti memeriksa jarak antara gagasan dan kenyataan.
Apakah basis-basis kebudayaan masih hidup?
Apakah generasi baru mendapat ruang yang cukup?
Apakah bahasa Minahasa semakin digunakan atau justru semakin kehilangan penutur?
Apa yang terjadi dengan pengetahuan yang dua puluh tahun lalu hendak diselamatkan?
Bagaimana masyarakat Minahasa menghadapi perubahan teknologi, ekonomi, lingkungan, agama, dan politik hari ini?
Dan setelah dua dekade, apa lagi?
Pertanyaan terakhir itu bahkan muncul dalam tema besar peringatan dua dekade: “Mawale: Dua Dekade dalam Tapak Kebudayaan, Apa Lagi?” (Pukkat)
Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar menghitung usia.
Arsip sebagai warisan bagi generasi berikutnya
Bagi Wale Papendangan, sesi ingatan audio visual juga memberi pelajaran mengenai pentingnya dokumentasi dalam kerja kebudayaan.
Selama ini banyak komunitas bekerja dengan energi yang sangat besar tetapi meninggalkan arsip yang sedikit. Orang sibuk membuat kegiatan, tetapi lupa menyimpan foto dengan keterangan yang baik, merekam siapa yang berbicara, menuliskan tanggal, menyimpan poster, atau mencatat cerita di balik sebuah peristiwa.
Dua puluh tahun kemudian, hal-hal kecil seperti itu menjadi sangat berharga.
Arsip membuat generasi baru tidak harus memulai dari kekosongan. Mereka dapat melihat apa yang pernah dicoba generasi sebelumnya, memahami kesalahan dan keberhasilannya, lalu menentukan langkahnya sendiri.
Dalam pengertian ini, dokumentasi bukan pekerjaan administratif di belakang kebudayaan. Dokumentasi adalah bagian dari kebudayaan itu sendiri.
Foto, video, suara, tulisan, buku, poster, dan cerita lisan menjadi cara sebuah generasi meninggalkan pengetahuan kepada generasi sesudahnya.
Dari ingatan menuju pekerjaan berikutnya
Pada akhirnya, “Mawale Movement: 2 Dekade dalam Ingatan Audio Visual” di Wale Papendangan bukan hanya pertemuan untuk melihat gambar-gambar lama.
Ia menjadi kesempatan untuk memandang dua puluh tahun sebagai sebuah rentang pengalaman: dari masa ketika jaringan kebudayaan dibangun melalui sastra, teater, penerbitan dan basis-basis komunitas, menuju masa ketika Mawale telah bersinggungan dengan semakin banyak persoalan dan semakin banyak generasi.
Kaleidoskop memungkinkan perjalanan itu terlihat tidak sebagai garis lurus, melainkan sebagai kumpulan perjumpaan yang saling terhubung.
Sebagian orang yang memulai perjalanan masih bekerja sampai sekarang. Sebagian telah bergerak ke ruang lain. Generasi baru muncul dengan metode dan medium berbeda. Teknologi yang dahulu hanya digunakan untuk membangun blog kini telah berubah menjadi kamera digital, media sosial, film, serta berbagai bentuk arsip yang dapat bergerak melampaui Minahasa.
Namun pertanyaan dasarnya tetap serupa: bagaimana Tou Minahasa memahami dirinya sendiri dan bagaimana pengetahuan kebudayaan dapat terus mempunyai daya hidup di tengah perubahan?
Dua dekade memberi cukup banyak bahan untuk melihat ke belakang, tetapi justru dari situlah pertanyaan tentang masa depan muncul.
Wale Papendangan membuka kembali ingatan itu bukan agar Mawale tinggal di masa lalu, melainkan agar perjalanan yang telah ditempuh dapat dibaca sebagai pengetahuan untuk menentukan ke mana kerja kebudayaan berikutnya akan bergerak.
