Pada Sabtu, 4 Januari 2025, Wale Papendangan di Sonder kembali menjadi ruang pertemuan melalui Sesi Menonton & Dialog Proses Kreatif: Antologi Film Karya Natasha Tontey. Selama tiga jam, dari pukul 14.00 hingga 17.00 WITA, tiga karya Natasha Tontey diputar dan dibicarakan bersama: Garden Amidst the Flame (2022), Of Other Tomorrows Never Known (2023), dan Behind the Scene: Larik Sungsang Kaum Primata (2024). Fredy Wowor menjadi host, sementara Kalfein Wuisan memoderatori percakapan.
Pertemuan itu bukan semata-mata pemutaran film. Wale Papendangan ingin membuka kembali proses yang berada di belakang karya-karya tersebut. Film yang sudah selesai dan telah bergerak ke festival, museum, maupun ruang seni internasional dibawa kembali ke sebuah rumah di Sonder untuk dibaca bersama. Penonton tidak hanya diajak memperhatikan apa yang muncul di layar, tetapi juga membicarakan bagaimana sebuah karya bertumbuh dari penelitian, percakapan, perjumpaan dengan orang-orang, pengetahuan kebudayaan, pengalaman tubuh, dan berbagai percobaan artistik.
Ada alasan mengapa kegiatan seperti ini penting dilakukan di Wale Papendangan. Hubungan dengan proses kreatif Natasha Tontey tidak muncul ketika film-film tersebut telah selesai. Jauh sebelumnya telah berlangsung berbagai perjumpaan dengan orang dan kelompok kebudayaan di Minahasa. Wale Papendangan pernah menjadi salah satu ruang workshop yang mempertemukan Natasha dengan Fredy Wowor, Man Kun Liu, Kawasaran Sumonder, dan Kawasaran Wulan Lengkoan. Karena itu, menonton kembali karya-karya Natasha juga berarti melihat bagaimana percakapan yang pernah berlangsung di Minahasa bergerak dan berubah ketika memasuki praktik seni kontemporer.
Dari Kawasaran menuju Garden Amidst the Flame
Film pertama, Garden Amidst the Flame (2022), menghadirkan Kawasaran Wulan Lengkoan. Dalam karya ini, Kawasaran tidak muncul hanya sebagai tontonan atau ornamen visual yang menandai “Minahasa”. Tubuh, gerak, ritme, kostum, mitologi, dan berbagai lapisan pengetahuan di sekitarnya memasuki sebuah bahasa artistik yang berbeda.
Pertemuan semacam ini menarik bagi Wale Papendangan karena berhubungan dengan pertanyaan yang sejak lama hadir dalam kerja kebudayaannya: bagaimana seni tradisi dapat terus hidup tanpa harus dibekukan dalam satu bentuk? Tradisi tentu memiliki sejarah, konteks, dan pengetahuan yang perlu dihormati, tetapi ia juga selalu bertemu dengan manusia dari zaman yang berbeda. Ketika generasi sekarang berhadapan dengannya, akan selalu muncul kemungkinan untuk membaca, menafsirkan, dan menciptakan sesuatu yang baru.
Garden Amidst the Flame kemudian bergerak jauh dari tempat pengetahuan yang menjadi salah satu sumber perjumpaannya. Film ini tercatat diputar dalam sejumlah ruang internasional, antara lain Karlovy Vary International Film Festival 2023, XPOSED Queer Film Festival 2023, Queer East London 2023, dan Voice Against Reason di Museum MACAN pada tahun yang sama. Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman yang berhubungan dengan Minahasa dapat memasuki percakapan seni yang lebih luas.
Fredy Wowor di dalam Of Other Tomorrows Never Known
Hubungan yang lebih dekat dengan Wale Papendangan terlihat dalam Of Other Tomorrows Never Known (2023), ketika Fredy Sreudeman Wowor hadir sebagai salah satu pemerannya. Dalam film tersebut Fredy memainkan figur Makatana, sebuah karakter yang berada dalam dunia spekulatif Natasha Tontey, tempat kosmologi Minahasa dipertemukan dengan gagasan mengenai teknologi, penyembuhan, leluhur, manusia dan nonmanusia, serta kemungkinan masa depan.
Kehadiran Fredy menarik karena ia tidak datang dari perjalanan seorang aktor profesional yang kemudian mencari peran. Pengalamannya selama bertahun-tahun berada di wilayah sastra, kebudayaan, pendidikan, dan penelitian Minahasa justru menjadi latar yang ia bawa ke dalam karya tersebut. Ketika tampil sebagai Makatana, pengetahuan yang sebelumnya lebih sering hadir melalui percakapan, tulisan, atau proses belajar memperoleh medium lain. Tubuh menjadi bagian dari bahasa film, sementara gagasan mengenai dunia Minahasa bergerak melalui performans dan imajinasi sinematik.
Penampilan Fredy kemudian mendapat penghargaan Best Performance pada Silver Screen Awards, Singapore International Film Festival 2023. Bagi Wale Papendangan, penghargaan tersebut tentu menjadi sesuatu yang patut dicatat, tetapi perjalanan sebelum Fredy tiba di layar internasional tidak kalah penting. Ia memperlihatkan bahwa orang yang bekerja dari sebuah rumah kebudayaan di Sonder dapat masuk ke dalam praktik seni kontemporer tanpa harus meninggalkan seluruh pengalaman yang membentuk cara pandangnya.
Melihat kesinambungan melalui Larik Sungsang Kaum Primata
Karya ketiga yang diputar adalah Behind the Scene: Larik Sungsang Kaum Primata (2024), yang kembali melibatkan Fredy Sreudeman Wowor bersama Ng Astinovya Etheldreda, Novi Haryono, Kezia Alaia, Sylvester Setligt, dan Theresje Ru’us.
Ketika tiga karya tersebut ditempatkan dalam satu sesi, penonton dapat melihatnya bukan sebagai film-film yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari perjalanan penciptaan yang terus berkembang. Orang-orang tertentu muncul kembali, hubungan berlanjut, pendekatan artistik berubah, dan pertanyaan yang pernah dibuka dalam satu karya menemukan bentuk lain dalam karya berikutnya. Di sinilah gagasan “antologi” menjadi berguna, karena yang diperhatikan bukan hanya hasil akhir, tetapi juga kesinambungan proses yang menghubungkan satu karya dengan karya lainnya.
Menonton film untuk memahami bagaimana karya lahir
Wale Papendangan sengaja menempatkan kata dialog proses kreatif sebagai bagian penting kegiatan ini. Film dapat saja selesai ketika kredit terakhir muncul, tetapi percakapan memungkinkan penonton memasuki lapisan yang tidak selalu terlihat di layar. Bagaimana seorang seniman menemukan gagasan? Bagaimana penelitian berlangsung? Apa yang terjadi ketika seorang seniman bertemu dengan pelaku Kawasaran? Bagaimana pengetahuan kebudayaan diterjemahkan menjadi sebuah karya tanpa sekadar dijadikan dekorasi? Dan bagaimana orang-orang yang terlibat dalam proses tersebut memahami kembali pengalaman mereka setelah melihat hasil akhirnya?
Pertanyaan seperti itu penting karena seni sering kali hanya dilihat melalui hasilnya. Penonton bertemu dengan film ketika semuanya telah tersusun: gambar telah dipilih, suara telah ditempatkan, tubuh telah diarahkan, dan narasi telah memperoleh bentuk. Padahal sebuah karya biasanya tumbuh jauh sebelum kamera merekam gambar pertama. Percakapan di rumah, perjalanan ke sebuah tempat, pertemuan dengan seseorang, kesalahpahaman, pertanyaan yang tidak segera terjawab, sampai pengalaman mencoba sesuatu yang baru dapat ikut menentukan bentuk akhir karya.
Melalui dialog, bagian-bagian yang biasanya tersembunyi itu dapat dibuka kembali.
Wale sebagai tempat film kembali menjadi percakapan
Ada makna tersendiri ketika film-film seperti ini ditonton di Wale Papendangan. Karya yang telah memasuki festival dan institusi seni internasional kembali hadir dalam skala sebuah rumah. Jarak antara layar dan penonton menjadi dekat. Orang yang tampil di dalam film dapat duduk bersama orang-orang yang menontonnya. Pengalaman yang sebelumnya menjadi bahan penciptaan dapat kembali dipertanyakan oleh orang-orang dari lingkungan tempat pengalaman itu berasal.
Di sinilah gagasan rumah sebagai pusat kebudayaan menemukan bentuk yang sederhana tetapi nyata. Sebuah rumah dapat menjadi tempat membaca buku, mendengar cerita, berdiskusi, berlatih seni, melakukan penelitian, ataupun menonton film. Ia tidak harus meniru bioskop, museum, atau kampus untuk menjadi ruang belajar. Justru kedekatan yang dimiliki sebuah rumah memungkinkan percakapan berlangsung dengan cara yang berbeda.
Seseorang dapat menonton sebuah karya dan segera bertanya kepada orang yang terlibat di dalamnya. Cerita mengenai proses produksi dapat berkembang menjadi percakapan mengenai sejarah, Kawasaran, kehidupan masyarakat, atau perubahan kebudayaan. Film kemudian menjadi penghubung antara pengalaman yang terjadi sebelumnya dengan pertanyaan yang muncul sekarang.
Seni tradisi dan seni kontemporer tidak harus saling meniadakan
Antologi karya Natasha Tontey juga membuka kembali pembicaraan mengenai hubungan antara seni tradisi dan seni kontemporer. Bagi Wale Papendangan, keduanya tidak harus ditempatkan sebagai dua dunia yang saling bertentangan. Seni tradisi bukan sesuatu yang hanya boleh berada di masa lalu, sementara seni kontemporer tidak harus selalu berarti meninggalkan pengetahuan yang diwariskan.
Kawasaran dapat masuk ke dalam film dan performans kontemporer. Cerita mengenai leluhur dapat bertemu dengan fiksi spekulatif. Pengetahuan tentang tubuh, alam, kematian, kehidupan, dan dunia tak terlihat dapat memasuki percakapan mengenai teknologi serta masa depan. Yang perlu terus diperhatikan adalah bagaimana pertemuan itu dilakukan: apakah pengetahuan hanya diambil sebagai bentuk visual, ataukah orang-orang yang hidup bersama pengetahuan tersebut benar-benar memperoleh ruang dalam proses penciptaannya.
Karena itu, eksperimentasi bagi Wale Papendangan tidak berarti membebaskan seni dari seluruh konteksnya. Justru eksperimen dapat menjadi kesempatan untuk kembali memahami apa yang berada di balik sebuah bentuk tradisi sebelum membawanya ke wilayah penciptaan yang baru.
Dari rumah melihat dunia, dari dunia kembali membaca rumah
Sesi pada 4 Januari 2025 akhirnya memperlihatkan hubungan yang menarik antara rumah dan perjalanan sebuah karya. Sebagian percakapan dan pertemuan dapat bermula dari Minahasa, sementara karya yang lahir kemudian bergerak melalui festival dan ruang seni di tempat-tempat yang jauh. Ketika film-film tersebut kembali ditonton di Wale Papendangan, perjalanan itu seperti membuat sebuah lingkaran: pengalaman lokal bergerak keluar, mengalami berbagai pertemuan, lalu kembali menjadi bahan belajar di tempat asalnya.
Bagi Wale Papendangan, hal tersebut merupakan bagian dari pendidikan kebudayaan. Menonton bukan sekadar menerima gambar, tetapi belajar memahami hubungan yang membuat gambar itu mungkin. Dialog memberi kesempatan untuk melihat bahwa sebuah karya selalu mempunyai konteks, orang-orang yang terlibat, pilihan-pilihan artistik, dan pengetahuan yang mendahuluinya.
Dengan cara itulah sesi menonton antologi Natasha Tontey menjadi lebih dari agenda pemutaran film. Ia menjadi kesempatan untuk membaca perjalanan sebuah proses kreatif sekaligus melihat bagaimana pengetahuan Minahasa dapat bergerak, berubah bentuk, bertemu dengan praktik seni kontemporer, dan kemudian kembali kepada komunitas sebagai bahan percakapan baru.
Di sebuah rumah di Sonder, film kembali menemukan salah satu fungsi dasarnya: membuat orang melihat, mengingat, bertanya, dan berbicara satu sama lain.
.jpeg)