MENYINGKAP WACANA DI BALIK DOKTRIN DIFUSIONISME
MENYINGKAP WACANA DI BALIK DOKTRIN DIFUSIONISME
Oleh : Fredy M.S.B. Wowor*
I
Pada tahun 2003 yang lalu, aku diundang menghadiri sebuah
pertemuan teater bersama kawan-kawan Teater Kronis yang diadakan di Teater
Garasi Yogyakarta.
Saat aku mengatakan bahwa aku datang dari manado dalam sesi
perkenalan, tiba-tiba seorang peserta dengan nada penuh sindiran menyeletuk
-- Dari Manado ? Oh, ada teater ya di Manado?
Aku melihat tatapan melecehkan menghujam dari mata beberapa peserta yang terprovokasi oleh
celetukan itu.
Pada tahun 2005 di sebuah toko buku di manado, seorang
kawan seniman menemuiku sambil menunjukan sebuah buku berjudul “Dunia X” yang
dia temukan terpajang di deretan buku-buku sastra di toko buku itu.
Buku ini adalah
kumpulan karya hasil workshop penulisan kreatif yang diadakan oleh
anggota-anggota Studio X Sonder yang umumnya masih duduk di bangku SMP dan SMA.
Dia berkata kepadaku
bahwa dia dan kawan-kawan seteaternya dari sebuah SMA terpandang di Manado juga
akan membuat buku yang lebih baik dari buku tersebut -- Torang le bole, masa
komang anak-anak dari kampung kase tinggal !
Hari ini ketika kisah ini aku tulis, buku yang dikatakan
kawanku ini belum juga kedengaran terbitnya. Kawanku itu kini telah meninggalkan
Manado mengejar masa depannya di
ibukota.
II
Apa yang dapat kita pelajari dari kedua cerita ini adalah
adanya kenyataan bahwa orang yang berada di kota cendrung memiliki pandangan
yang merendahkan terhadap orang dari desa.
Dalam pandangan orang-orang kota ini, desa tak lebih dari
sebuah wilayah tertutup yang belum
tersentuh oleh kemajuan dan orang-orang yang datang dari desa adalah
orang-orang terbelakang.
Ungkapan-ungkapan stigmatis
seperti “Kampungan”, “Dasar Alifuru” , atau “Orang Udik” yang kini tidak asing lagi di telinga adalah
bukti nyata dari meruyaknya cara pandang
tersebut.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah dasar epistemologis
yang melandasi perkembangan dari cara pandang ini ?
Dasar epistemologis yang melandasi cara pandang ini
menurutku bertumpu pada keyakinan bahwa kota adalah pusat kebudayaan dan
sebagai pusat kebudayaan, kota adalah ukuran kemajuan.
Orang kota berarti orang yang lebih berbudaya dibanding
orang desa. Pada level yang lebih ekstrim, hal ini bermakna bahwa tidak ada
kemajuan yang akan datang dari desa.
Hakikat dari keyakinan ini menurutku, dapat ditelusuri asalnya pada sebuah wacana tersembunyi – Keunggulan
satu budaya tertentu – dari doktrin
difusionisme.
Adapun wacana tersembunyi dari doktrin difusionisme ini
berakar dari dogma pengadaban terhadap bangsa-bangsa barbar yang menjadi
ideologi para penakluk dari Eropa.
Difusionisme adalah sebuah aliran pemikiran yang muncul
pada akhir abad ke 19 sebagai tanggapan terhadap doktrin evolusionisme terutama
terhadap konsep “Fasen Theorie” atau “Teori Tahap” dalam perkembangan
masyarakat.
Dalam doktrin difusionisme terdapat keyakinan pola-pola
antropologis itu cendrung mengalami difusi ke segala arah dari pusat asal
muasalnya. Argumen ini berlanjut pada pemahaman bahwa ada pusat-pusat kultural yang
memancarkan pola-pola yang kemudian
diadopsi oleh masyarakat yang berada jauh dari pusat kultural tersebut.
Dalam bentuknya yang paling ekstrim dikatakan
bahwa hanya ada satu pusat kultural saja yang merupakan asal muasal penyebaran
pola-pola antropologis itu ke seluruh dunia. Pendapat seperti ini dapat kita
temukan pada Eliot Smith yang mengemukakan pendapat bahwa Mesir adalah asal
muasal dari peradaban dunia (Jonathan H. Turner dan Alexandra Maryanski, Fungsionalisme,
2010:53).
III
Bila dikaji asal usul historisnya, maka dapat dikatakan
bahwa dogma pengadaban terhadap bangsa-bangsa barbar ini telah bersentuhan dengan kehidupan tou
maesa sejak masa-masa awal kedatangan para penakluk dari Eropa.
Hal ini dapat dibuktikan melalui kutipan dari laporan Pater
Blas Palomino O.F.M. pada tanggal 8 Juni 1619 berikut ini :
“Pada hari Jumat kedua sesudah pesta Paskah, rombongan kami
berangkat menemui orang-orang pribumi itu: kapten Malendeo, Juan de Baras dan
kami bertiga. Lantas ada juga beberapa serdadu serta beberapa juru pikul dalam
rombongan kami. Dalam setiap kampung, terjadi hura-hara dan muncul
kesulitan-kesulitan. Memang, kami merasa
perlu untuk membicarakan pertobatan mereka, sedangkan mereka dari lain pihak masih penganut tahyul yang sangat percaya
akan dewanya serta roh-roh jahat. Jika pokok ini sedikit saja disinggung, maka
langsung muncul keributan dan kekacauan,
namun sejak awal, kami telah ambil keputusan untuk tetap tenang saja dan
dengan tabah menghadapi bangsa yang
masih terkebelakang itu (Paassen, Y. Blas
Palomino O.F.M dan Lorenso Garralda O.F.M. 2003:20).
Berdasarkan kutipan ini, kita dapat melihat bagaimana tou
maesa dikatakan sebagai bangsa yang terbelakang dan penganut tahyul sehingga
perlu ditobatkan.
Pernyataan bahwa tou maesa adalah bangsa terbelakang,
penganut tahyul sehingga perlu ditobatkan ini menurutku adalah bukti dari
adanya usaha peniadaan terhadap
eksistensi tou maesa.
IV
Pertanyaannya sekarang adalah mengapa sejak masa awal
kedatangan para penakluk Eropa sampai zaman reformasi di Republik ini, masih ada saja usaha untuk terus meyakinkan
stigma tersebut ?
Jawaban terhadap pertanyaan ini menurutku terletak pada
kenyataan bahwa Kaum Muda Maesa masih Exist. Mereka terus mengada. Dan berusaha
meningkatkan daya hidupnya.
Setiap usaha untuk terus meyakinkan pernyataan-penyataan
stigmatis itu adalah praktek sistematis untuk meniadakan satu-satunya kelebihan dan modal
paling mendasar yang kita miliki yaitu eksistensi kita masing-masing sebagai
satu pribadi.
Jadi kepercayaan kita kepada
pernyataan-pernyataan stigmatis itu akan menjadi satu-satunya kelemahan paling
mendasar kita sebagai Kaum Muda Maesa dalam menjalani kehidupan di
dunia ini.
Kepercayaan kita kepada pernyataan-pernyataan stigmatis itu
tak bisa tidak akan berujung pada merosotnya daya hidup dan melenyapnya
eksistensi kita sebagai Tou Maesa.
V
NYANYIAN ORANG KAMPUNG
Hari ini ketika jendela terbuka
Dunia tak punya batas lagi
Kita tertaut pada siapa saja
Kampung tempat tinggal kita
yang dahulu terisolir oleh kebijakan penguasa yang sentralistik, kini telah kembali menjadi pusat kultural
yang terbuka bagi pandangan seluruh bangsa di dunia.
Media komunikasi internet telah melapangkan jalan bagi kita
untuk menjalin hubungan dengan siapa saja untuk kepentingan apapun. Kampung
kita kini menjadi salah satu bagian dari jaringan kampung global. Sesuatu yang
dahulu bersifat lokal kini telah mengglobal.
Kenyataan ini merupakan faktor penunjang utama bagi kita
sebagai Tou Maesa untuk terus meningkatkan daya hidup kita dengan mengolah
setiap sumber daya yang lokalistik sifatnya menjadi suatu keunggulan tersendiri
sehingga kita dapat berkompetisi di panggung global sekarang ini.
Strategi budaya kita harus bertumpu
pada pembacaan sistematis terhadap perkembangan situasi ekonomi, politik, sosial, dan
kebudayaan di level global, nasional maupun lokal. Tujuan dari
penerapan strategi budaya ini adalah untuk
meningkatkan potensi dan daya cipta setiap Tou Maesa serta menentang setiap daya upaya untuk
melenyapkan existensi kita di dunia
ini.
Adapun langkah-langkah kongkret yang dapat diambil dengan
sendirinya mesti bersesuaian dengan hasil penilaian dari masing-masing pribadi.
.
*Sastrawan dan Dosen Tetap di
Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra
Universitas Sam Ratulangi Manado
.png)